Welcome to The Psycho...

"Aku bukan komunis, bukan pula humanis. Aku adalah segalanya, mengungkapkannya dengan menyusun kata per kata.."

07 Mei 2017

Idealisme dan Seni

IDEALISME itu mulai goyah. Jalannya pun tertatih. Bukan implikasi dari keluhan dan umpatan yang berdengung setiap hari.
Namun, hantaman distorsi bertubi-tubi membuatnya lunglai, walaupun tetap berdiri tegak.

"Apakah bisa bertahan dari gempuran realitas yang seringkali tak sesuai dengan cita-cita?" ujar seorang kawan di sebuah warung kopi pada satu malam.

Dia teguh pada nilai prinsip yang dianggapnya suatu kebenaran. Tapi, entah sampai kapan eksistensi keteguhan itu terus menghinggap.
Saya pun hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Tak ada jawaban yang hakiki untuk melihat masa depan.

Yang bisa dilakukan adalah bertindak dan berkarya. Betul, bahwa berpikir itu juga penting. Namun tanpa tindakan, dia sekadar buaian.
Lihat lah Jenderal Besar Sun Tzu. Dia berkarya melalui buku militer yang begitu tersohor, yaitu Sun Zi Bing Fa atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan The Art of War.

Sun Tzu hidup zaman 544 SM-470 SM, dan memiliki latar belakang dari keluarga dengan bakat militer yang tinggi.
Buku The Art War yang telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa itu, sampai kini masih relevan digunakan, termasuk dalam strategi di dunia bisnis.

Artinya, Sun Tzu tak meninggalkan idealismenya. Dia berkarya. Bahkan, karyanya sampai sekarang jadi referensi atau acuan manusia di peradaban modern.

Saya jadi teringat ucapan seorang kawan dari Jakarta. "Proses untuk mendapatkan hasil ada seninya. Nah seninya itu ya di dalam proses itu," katanya.

Ternyata benar, semua tentang seni. Tak ada yang bisa melepaskan diri darinya. Setiap manusia pada hakikatnya memiliki seni.
Jadi, manusia itu pun tak bisa lepas dari politik, yang juga memerlukan siasah (seni).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti seni ada empat sebagai kata dasar, di antaranya keahlian membuat karya yang bermutu (dilihat dari segi kehalusannya, keindahannya, dan sebagainya).

Idealisme pun butuh seni. Bagaimana seninya? Tergantung subjek itu sendiri. Seni belajar berangkat dari pengalaman empiris.
Seperti buku The Art of War yang ditulis Sun Tzu. Pengalaman empiris masa lampau masih menunjukkan taringnya.

Buku tentang seni itu menjadi acuan tidak hanya di bidang militer saja, tapi juga sudah menjamah dunia politik dan bisnis.
Nyatanya, seni mendobrak sekat berbagai bidang. Tak hanya bidang seni itu sendiri.

Memperjuangkan idealisme itu juga perlu seni. Baik dalam bentuk imajiner, maupun bentuk nyata atau karya.

Akhirnya, saran saya terhadap seorang kawan tadi, tetaplah bertindak dan berkarya. Jangan terlalu terkungkung dan sampai terjebak dalam berpikir.

Namun, jangan juga bertindak dan berkarya tanpa penalaran.

Bertindak dan berpikir tak bisa dipisahkan. Keduanya mutlak melekat.

Terkadang keduanya berebut dominasi menguasai jasad. Pada saat itulah seni perlu dihadirkan. Tentu bukan seni yang kebablasan, hingga berakibat padan seniwen.

Selamat bertindak, berkarya, dan berpikir! (*)

15 April 2015

"The Scientist"

Come up to meet you, tell you I'm sorry
You don't know how lovely you are
I had to find you, tell you I need you
Tell you I'll set you apart

Tell me your secrets and ask me your questions
Oh, let's go back to the start
Running in circles, coming up tails
Heads on a science apart

Nobody said it was easy
It's such a shame for us to part
Nobody said it was easy
No one ever said it would be this hard
Oh, take me back to the start

I was just guessing at numbers and figures
Pulling your puzzles apart
Questions of science, science and progress
Do not speak as loud as my heart

Tell me you love me, come back and haunt me
Oh, and I rush to the start
Running in circles, chasing our tails
Coming back as we are

Nobody said it was easy
Oh, it's such a shame for us to part
Nobody said it was easy
No one ever said it would be so hard
I'm going back to the start

11 Desember 2013

Pemalas!

TIBA-tiba teringat dengan "tempat sampah" ini. Begitu lama tak menyapa dan menjamahnya. Kemalasan menjadi kambing hitam. Padahal, mulai terbawa dan terbuai dengan pragmatisme semu. Untungnya seorang kawan mulai menyadarkan (kembali) dengan sindiran.

"Bacalah buku apa saja. Berikan waktu sehari membaca, paling tidak sebelum istirahat malam," kata seorang kawan di bandara. Tanpa menjelaskan lebih lanjut, maksud yang disampaikannya begitu jelas.

Kemalasan memang alasan yang logis untuk dipersalahkan. Namun, sampai kapan? Kita seringkali mudah mengatakan malas. Dengan mengatakan itu, tak perlu lagi memaparkan jawaban selanjutnya. Jawaban itu sudah sangat jelas dan tak perlu penjelasan lagi.

Malas berdampak besar dan biasanya berlangsung lama. Perbedaan orang malas dan orang yang rajin (anonim dari malas) begitu terlihat. Dari penampilan, pendapatan, dan juga rasa percaya diri. Namun sayangnya, malas sepertinya sudah menjadi kebiasaan yang sangat ditolerir di sekeliling dan kita sendiri.

Bahkan, bagi orang-orang yang percaya dengan keyakinannya, Tuhan memberikan dua pilihan pada kehidupan setelah kematian. Surga dan Neraka. Kalau umat tidak malas dalam menjalankan perintahNya, balasannya jelas adalah Surga, dengan segala kenikmatan di dalamnya. Begitu juga sebaliknya, Neraka siap "menampung" orang-orang yang malas.

Kemalasan dalam satu tahun mengisi "tempat sampah" ini juga memiliki dampak. Tak pernah ada lagi karya sampah yang tercipta, dan tentunya mematikan kreatifitas intelektual. Tak berdaya apapun. Otak pun tak mengalami kemajuan dalam berpikir.

Namun, kemalasan memang menjadi kenikmatan tersendiri pada satu titik. Dia memang dibutuhkan di sela menikmati hidup. Selamat menikmati kemalasan!

07 November 2012

Kebohongan

SEPERTINYA, saya terperangkap dalam beragam fakta yang disajikan. Stigma dan skeptis menjadi tidak terkendali. Pernyataan yang tidak sesuai, seolah menjadi penegasan tentang kebohongan yang mendapatkan legitimasi. Entah, apa yang ada dalam pikiran mereka, pada saat berhadapan dengan jutaan manusia melalui layar kaca, atau tulisan di media cetak.

Implikasinya, berujung pada apatisme. Kami tidak bodoh, untuk kemudian percaya dengan pernyataan-pernyataan kemunafikan. Tapi inilah dunia, dengan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi. Konsistensi manusia hanya terletak pada inkonsistensinya. Bisakah kita berpikir sejenak, menggunakan hati nurani. Bukan berorientasi pada kepentingan lainnya.

Perangkap itu semakin menampakkan eksistensinya. Berteriak keras, tampaknya percuma dan dianggap sekadar beretorika. Diam pun, dianggap tak becus menjadi manusia yang memiliki rasa iba. Tapi, pada hakikatnya semua dihadapkan pada kondisi untuk memilih dan memilah. Saya memilih diam, dengan segala konsekuensinya.

Dalam artikel di sebuah majalah mingguan, seorang penulis terkenal melukiskan kata pembuka. “Tak mudah mengatakan apa itu keadilan, tapi tentang ketidakadilan orang dapat mengenalinya dengan seketika…” Kata ini menjadi pembenaran sekaligus penegasan atas pilihan saya tadi.

Namun, pada satu titik, perangkap itu tidak boleh terlalu lama menyebarkan distorsinya. Saya harus melakukan sesuatu untuk mendobraknya. Biarlah, dalam keadaan diam ini, saya merekonstruksi fondasi sistematika berpikir. Selain diam, tentu saya ingin menyaksikan arena dagelan yang selama ini telah mengubah persepsi secara umum.

Perjalanan itu memang terdengar begitu meletihkan tenaga dan pikiran. Hasilnya pun seolah tak terdengar, dan terkesan sia-sia. Tapi percayalah, dari cerita, sebenarnya mereka merasakan kehadiran kita yang bersuara tanpa suara. Fiuh.. saya merasa lega mengetahuinya. Mereka adalah orang-orang yang muak menyaksikan dan menjadi korban dari kebohongan segelintir manusia.

Stigma dan skeptis memang memunculkan pemikiran baru. Memang, rasa keingintahuan tinggi. Namun, tanpa didasari fondasi yang kokoh, rasa itu bisa dibilang percuma. Sekadar berada pada tataran permukaan dan cenderung lemah. Sampai sekarang pun, saya hanya mampu menunggu membongkar perangkap itu.. Berkarya, tak boleh berhenti..

17 Oktober 2012

Cerita Seorang Sahabat

KEPALAN tangan itu dihempaskan ke pipi kiri dan kanan beberapa kali. Namun, aku tak membalasnya. Terdiam, dan tetap menatap kedua mata tajamnya. Tendangan pun, tak terelak mengenai punggung dan pantat. Bahkan, satu tendangan keras menghantam bagian tubuh lainnya.

Dia mengamuk di sebuah ruangan kecil pada suatu petang. Tidak puas memukul tubuhku, kepalan tangan kanan didorong keras ke pintu lemari pakaian. Brak! Entahlah. Aku membiarkannya, melakukan apa yang dimaunya. Pada saat mulai tenang, aku langsung memeluknya.

Dalam hitungan detik, kedua tangannya mendorongku, melepaskan pelukan itu. Mulutnya bergerak, bersumpah serapah secara lirih. Kakinya melangkah kecil, dengan arah tak menentu. Bolak balik melangkah, tanpa menghiraukan suara televisi yang cukup keras.

Dia lalu terdiam, menahan tubuhnya yang berdiri. Mulutnya tertutup. "Aku ingin pulang. Aku masih sebel mengingat kata-kata itu," ujarnya, dengan menolehkan wajahnya ke arahku. Aku hanya tertunduk.

Kata-kata yang kuucapkan beberapa hari lalu itu, mungkin begitu keras untuknya. Namun, semua memang harus terjadi. Aku pun berulang kali meminta maaf. Dia belum bisa menerimanya dalam waktu dekat. Bagi dia, kata-kata itu baru pertama kali diterimanya dari seorang pria.

Aku hanya bisa meminta maaf, walaupun tidak pernah menyesali telah berkata keras kepadanya. Apalagi mengingat perlakuannya kepadaku beberapa hari yang telah lalu. Dia tetap harus menerima kata yang merupakan bentuk teguran itu. Tanpa kepentingan lain, kecuali perubahan perilakunya. Tapi sepertinya, sudah tidak penting lagi untuk berpikir hal yang sama.

Pertemuan keduanya pada suatu petang itu, merupakan komitmen keduanya untuk melepaskan diri masing-masing. Melepaskan diri dari rasa yang terjalin sekitar tiga bulan. Pertemuan akhir keduanya itu, menciptakan perpisahan dengan cara berpelukan, pukulan, dan tendangan.

"Aku terlalu sayang kepadanya. Tapi mungkin, takdir tidak bisa menyatukan kami. Aku tidak menyesali segala yang telah dilewati. Dia menipu dirinya, dengan mengatakan tidak sayang aku lagi. Aku tahu, dia masih memiliki rasa itu," kata sang pria yang bercerita kepadaku, ditemani dua cangkir kopi.

Aku hanya mendengarkan cerita romantisme cinta keduanya. Cerita ini, adalah kesekian kalinya dari beragam kisah sahabat-sahabat lama. Sebagian besar dari cerita itu berakhir dengan tidak sempurna, karena saling mempertahankan ego, dan keras kepala. Padahal secara kemampuan akademisi, mereka cukup berkompeten.

Namun sepertinya, justru kadar intelektual itulah yang kemudian membentuk arogansi ego. Perbincangan hubungan para sahabat tadi dengan pasangannya, lebih banyak membenturkan argumentasi yang tak jelas orientasinya. Mereka ingin menunjukkan eksistensinya masing-masing.

Ketika eksistensi itu mulai mendominasi, pada saat itulah muncul pola berpikir bargaining. Artinya, hubungan tidak sekadar berdasar rasa yang menyertai. Tapi posisi siapa yang paling unggul. Kata menang dan kalah, salah dan benar, akan terbentuk kemudian.

Ini hanya bentuk generalisasi dari sejumlah kisah sahabat tadi. Tidak semua seperti itu, toh bisa dibandingkan banyaknya pasangan-pasangan lain yang bisa membuktikan adanya cinta sejati. Pasangan ini sadar, mereka saling mengabdi, bukan memposisikan diri terjebak dalam istilah gender.

Sahabat tadi mengakhiri kisah romantisme cintanya, dengan memberikan dua helai kerudung berbeda warna. Walaupun berhadapan dengan perempuan yang berkarakter begitu keras, dia berusaha selalu sabar. Nah, kesabaran itu dianggapnya sebagai peran tertinggi dalam rasa sayang.

Bennedict Anderson mengatakan, hanya dua faktor penting yang mengontrol manusia. Yaitu hati dan pikiran. Keduanya seharusnya sejajar dalam berperan. Kalau satu di antaranya mendominasi, manusia tidak akan bertahan lama dengan apa yang diperolehnya.

"Pada satu titik, semua memang harus berakhir. Aku tidak percaya adanya konsistensi dalam kehidupan. Semua yang hidup mengalami perubahan setiap detik. Mungkin aku masih sayang dan berharap untuk bersamanya. Tapi, sepertinya aku hanya bisa berfantasi dengan buaiannya," kata sang pria.

Aku tersenyum mendengar kalimat itu dan memandangnya. Sang pria, justru menutup mata dan mengalir air dari celah bulu mata, dengan wajah yang menghadap ke atas. Cerita ini, menjadi lara dalam suasana sore mendung itu, di warung kopi langganan kami berdua.

03 Oktober 2012

Harapan

DIA selalu berharap, apa yang ditemuinya saat ini merupakan ujung dari perjalanannya. Bukan totalitas dalam proses hidup, tapi bagian dari totalitas itu sendiri. Baik itu karirnya, maupun kisah romantisme cintanya. Untuk kota yang dihuninya saat ini, hatinya belum sepenuhnya diberikan begitu saja.

Namun, kata ujung atau akhir bagian dari proses itu, masih sekadar asa. Mengembangkan kemampuan masih tanpa batas. Eksplorasi belum mencapai klimaks. Hanya saja untuk sementara waktu, stagnasi menyapa dan memeluknya. Entah sampai kapan. Padahal dia sudah begitu jengah dengan keintimannya.

Nasib kisah romantismenya tidak jauh berbeda. Orang-orang yang mengelilinginya, bukan sembarang manusia secara intelektual. Namun sayang, kisah itu seolah menjadi romantisme yang merupakan buaian secara temporar. Dia masih saja terjebak pada pola berpikir tentang eksistensi anomali.

Dia masih berusaha melakukan rekonstruksi dari dekapan erat pemikirannya yang sesungguhnya sudah usang. Pondasi yang mengelilingi dinding sel berpikir perlahan mengendap, mengeras, dan menjadi kerak. Toh dia tetap bersikeras membersihkan kotoran yang sejak beberapa tahun lalu mulai terbentuk.

Ketika berdiam di satu ruangan kecil itu, dia merasa hanya berdialog dengan bayangan. Sia-sia. Dia sadar, kalau masih tetap membiarkan diserang distorsi yang bertubi-tubi, pemikirannya bakal mati. Tanpa ampun.

Pragmatisme itu pun masih berjalan tertatih-tatih. Benturan tetap terjadi. Sekali lagi, dia masih tak berdaya. Walaupun dalam keadaan seperti itu, tetap saja dia menolak beberapa orang yang menawarkan bantuan. Pencerahan dianggap hanya bisa diciptakannya sendiri. Bukan dari orang lain.

Kisah itu hanya tersalurkan melalui pikiran menuju hatinya. Pada satu titik, dia membutuhkan pikiran dan hati yang lainnya. Namun di titik lain, dia tetap saja masih angkuh. Harapannya, masih terangkum dalam fantasi..

19 September 2012

Kepentingan

SELALU ada yang memerintah dan yang diperintah. Seperti halnya tubuh, yang selalu bergerak atas dasar perintah roh. Bebas, melakukan apa saja. Atasan, kebagian melakukan perintah kepada bawahannya. Semakin ke atas, dia bertambah kekuasaannya untuk memerintah.

Kekuasaan, selalu melekat dalam diri pemimpin. Konsep perbudakan, memang telah hilang. Namun, mekanismenya tetap sama, dengan kata yang berbeda. Katanya, zaman sekarang, hak asasi manusia lebih mendapatkan tempat dibandingkan pada era pemikiran Plato mulai berkembang atau jauh sebelumnya.

Tapi, sejumlah kawan seringkali mengeluh atas pekerjaan yang dibebankan. Mereka merasa dijadikan sebagai sapi perah. Entah demi kepentingan atasan, atau ruang lingkup yang lebih luas lagi. Yaitu korporasi. Tentu, ujung-unjungnya adalah ekslusifitas dengan orientasi keuntungan.

Saya tersenyum, ketika seorang tokoh budayawan terkemuka mengatakan, sebuah ilmu harus dilepaskan dari kepentingan. Bukankah mengejar ilmu atau menciptakan ilmu itu sudah berdasarkan kepentingan? Sekali lagi, tidak ada sesuatu yang melepaskan dirinya dari kepentingan. Seperti halnya objektifitas, tanpa intervensi subjektifitas.

Nilai, selalu menjadi tujuan. Bukan ditempatkan dalam proses untuk meraih tujuan. Entah dalam bentuk materi, atau apapun! Kepentingan, akan dengan sendirinya menghilang pada saat berhentinya hidup. Laiknya manusia, yang terus berpikir, kecuali dia dalam keadaan tidur atau mati.

Kepentingan, menjadi kekuatan yang begitu besar. Bahkan, deminya, manusia bisa berubah begitu kejam. Saling senggol, tanpa belas kasihan. Apalagi, jika kepentingan itu berkaitan dengan materi, kekuasaan, dan romantisme cinta.

Memanusiakan manusia, seakan tergerus dengan kepentingan. Orientasi mendapatkan keuntungan dalam bentuk materi, selalu saja mendominasi dibandingkan kepentingan lainnya. Pucuk pimpinan, merupakan pengambil kebijakan. Entah dalam korporasi, atau dalam konteks negara.

Menanggapi beragam keluhan yang diungkapkan sejumlah kawan tadi, saya hanya bisa menanggapi secara bijak. Manusia, diberikan kebebasan penuh dalam memilih jalan hidup. Keputusan yang diambil, menentukan kepentingan. Menjadi yang diperintah, atau yang memerintah.

Anda, boleh muak atau jijik melihat kepentingan. Namun, dia selalu ada, dan harus ada. Mau tidak mau, memang mutlak terjadi. Semakin mengeluh, membuat kita justru terjebak dalam pertarungan kepentingan.